Karena Pekerja Kantoran Juga Butuh Ngetrip (bukan perjalanan dinas)
Majestic of Banyuwangi, days_1 gunung_ijen

By Nug. Agus 09 Feb 2018, 09:33:09 WIB Wisata
Karena Pekerja Kantoran Juga Butuh Ngetrip (bukan perjalanan dinas)

Keterangan Gambar : Gus Ninna : My adventure on Banyuwangi


Dua pilihan, antara menuliskannya dan tidak. Di sela-sela dimulainya kembali rutinitas pekerja kantoran di 2018 ini, aku putuskan menulis, karena ini tentang berbagi pengalaman ngetrip demi menyusuri obyek wisata andalan Banyuwangi, yang sudah lama saya idamkan. Perjalanan saya rencanakan dari Semarang menuju Malang menggunakan bus malam “Handoyo”, dan menitipkan yuniors pada Kakek Neneknya untuk berwisata di Malang. Ya, kami memang sering berlibur ke Malang, karena selain ada keluarga di kota apel ini, Malang selalu mempunyai daya tarik baru setiap tahunnya.

Karena bertepatan dengan liburan sekolah dan Natal 2017, Semarang – Malang yang biasanya kami tempuh 9 jam menggunakan bus, kali ini harus kami tempuh selama 12 jam, 3 jam lebih lama dan sungguh membuat yuniors mulai kesal. Jum'at, 22 Des '17 pukul 08.00 WIB kami baru mendarat di terminal Arjosari Malang, saudara telah menjemput kami di sana.

Jum'at, 22 Des '17 pukul 16.00,

KA Ekonomi Tawangalun jurusan Malang – Banyuwangi berlahan meninggalkan Stasiun Kota Baru Malang. Seribu satu macam tujuan dari orang-orang yang ada di dalamnya. Rata-rata tujuan berlibur, ke Jember, Banyuwangi, Bali dst. Ada yang sedang rutinitas pulang pergi, entah sekolah, bekerja, mudik, dll.

Saya ada di gerbong 1, kursi nomor 8, sesuai dengan yang tertera pada tiket yang kupegang. Tas ransel ukuran sedang aku letakkan di bagasi atas. Sementara tas kecil tidak lepas dari pangkuanku. Agak gugup, karena ini kali pertama saya bepergian seorang diri, tanganku tak pernah lepas dari HP, untuk selalu mengabarkan telah melewati di stasiun mana saja.

Kurang lebih 7 jam di dalam kereta api, jam menunjukkan pukul 23:30 KA Tawangalun berhenti di stasiun Karang Asem, aku turun langsung mengikuti arus manusia menuju pintu keluar.

Di sekitar pintu keluar terlihat hiruk-pikuk suara orang-orang menjajakan jasanya, ada ojek, taksi resmi dan taksi liar, di belakang mereka ramai juga bergerombol dengan pandangan menyelidik terpusat pada satu arah yaitu arus penumpang keluar. Sepertinya mereka adalah penjemput yang berharap segera mengenali sanak-saudaranya, handai-taulannya, maupun teman-sejawatnya.

Aku celingukan mencari penjemputku. Tak lama nampak dari kejauhan seseorang berperawakan gendut, "eeehh... Jangan bilang gendut ahh !". Ntar banyak yang merasa. Ku bilang badannya gempal, rambut pendek kemerahan, khas rambut orang pesisir.

"Mbak Ninna !" teriaknya. Aku berlari kecil ke arahnya. Dia menjabat erat tanganku. Aku memanggilnya "Abi" (Agus Abioso). Lega hatiku. Aku pun mengikuti Abi berjalan ke arah mobil penjemput, di sana sudah menunggu satu lagi seorang penjemputku. Berperawakan sedang, sepertinya "Agus" juga. (agak gundul sedikit)

Hehehe... Dialah Agus Riyono, aku memanggilnya Cak Rio, ini kali kelima pertemuan kami.

Cak Rio mengulurkan tangannya untuk menyambut ku, meski tanpa kalungan bunga seperti yang biasa dia candakan untuk menyambutku jika aku benar-benar sampai Banyuwangi, tas ranselku yg terlihat padat berisi, segera ia ambil alih untuk di letakkan di bagasi mobil. Aku segera masuk mobil. Inginnya mampir makan malam dulu, aku lapar, selama di KA aku hanya makan bekal yang aku bawa dalam porsi sedikit. Tapi kuliner Banyuwangi tengah malam sulit kami jumpai.

*Puisi - Srikandi Pendaki*

Aku juga berani di ketinggian.

Aku juga suka menikmati dinginnya kabut.

Di antara vegetasi yang asing namun menyamankan.

Aku juga suka duduk di batang kayu yang roboh, bebatuan di sepanjang jalur, sekedar melepas lelah.

Aku juga berusaha terlihat tangguh di alam.

Tapi bukan untuk menyaingi kamu.

Karena takdir Srikandi tetaplah kau lindungi.

--------+--------

23:30 sampai di Stasiun tujuan (Stasiun Karangasem).

24;00 mampir di rumah Dulur Agus,

Agus Baen namanya. Seorang Ketua dari Lembaga Adat Suku Osing.

Ramah, menarik, bersahabat dan antusias. Mobil berhenti di ujung jalan sebuah perumahan. Keluarlah sosok yang aku gambarkan tersebut, menyambut tiga "Agus" :

Aku (Ninna), Gus Riyono (Yth Jatim 1), dan Gus Abioso.

Entah bagaimana suasana pastinya, tentu dihiasi wajah-wajah sumringah dari semua "Agus" yang ada. Bahagia dikunjungi Dulur yang jauh di mata, dekat di WA. eehh...

Ternyata ada Agus Sairi ikut menyambut, laki-laki berperawakan kekar, Nelayan tulen, jangan ditanya kalau soal warna kulit, sudah pasti .... Pasti baik hatinya ! Hehehe...

Obrolan kembali berlanjut, dilengkapi hidangan yang cukup untuk mangganjal perut di tengah malam sebelum berangkat ke Gunung Ijen. Ya! Gunung Ijen adalah tujuan utamaku jauh-jauh ke Banyuwangi ini.

"Diri kita dan apapun yang kita miliki adalah hal yang paling baik untuk kita bukan untuk orang lain. Apa yang dimiliki orang lain itu yang terbaik untuk mereka bukan untuk kita."

Konsep sederhana ini akan membuang rasa iri yang bersemayam di hati.

 

Langsung ke cerita Pendakian G. Ijen.

"Jangan mengambil apapun selain gambar"

"Jangan meninggalkan apapun selain jejak"

"Jangan membunuh apapun selain waktu"

Tiga baris kalimat yang tak perlu lagi papan peringatan bagi seorang pendaki untuk mengingatnya. Menjadi pedoman awal di saat kami melangkahkan kaki meninggalkan pos perijinan.

Hawa sejuk mengalir seirama nafas & detak jantung.

Memanjakan imaji mendamaikan hati jelas terasa.

Dalam kelompok tanpa harus bertopeng tanpa harus menjadi orang lain.

Alhamdulillah. Cuaca cerah. Sempat aku khawatirkan bakalan hujan mengingat ini misi ini terjadi di Bulan Desember, yang merupakan puncak-puncaknya musim hujan. Nekat saja, karena memang dapatku waktu libur ya ini.

Kita yakin kita semua bisa, yang kita perlu sekarang cuma kaki yang berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih dari biasanya.

Mata yang akan menatap lebih lama, karena akupun belum tidur sejak dari kota Malang.

Leher yang akan sering mendongak ke atas, karena juta-an bintang seakan berebut menerangi langkah kami.

Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, karena mendaki bukanlah soal kamu sudah menaklukkan sebuah Gunung, namun tentang ‘’menaklukkan ego dan emosi yang ada dalam diri sendiri’’.

Hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya karena ketabahan menghadapi semuanya ada di sana, serta mulut yang akan terus ber-Do'a karena Tuhanlah sumber dari segala keselamatan.

Hehehe.... Agak berlebihan memang, iya karena ini bisa dibilang kali pertama aku naik gunung. Aku bukan anak gunung. Bukan anggota pecinta alam yang suka mendaki di kala senggangnya. Aku Cuma pekerja kantoran juga butuh ngetrip (bukan perjalanan dinas, hee...)

Sebelumnya cuma pernah jalan ke Gn. Bromo, yang nggak seberapa melelahkan dibandingkan jalan ke Gn. Ijen ini.

Perjalanan masih sepertiga jarak tempuh, namun beratnya medan memaksa kami sering2 berhenti.

Rombongan pendaki lain silih berganti mendahului, biarlah... kami fokus pada keadaan tim sendiri.

Kita harus bisa memetakan kekuatan & kelemahan tim, demi berhasilnya pendakian.

Kereta tanpa kuda, di saat saat tertentu mereka adalah sebuah solusi bagi sebagian pendaki yang gagal mempertahankan statusnya sebagai Pendaki. Secara tidak langsung, penyedia kereta tanpa kuda ini adalah "benalu" yang menggerogoti daya juang wisatawan. Tak dapat dihindari, Ini adalah bagian dari mata rantai kehidupan di kawasan ini, selain penambang belerang tentu saja.

Tegas dalam hati saya,

"Aku tidak mau bikin cerita perjalanan bila aku naik ke atas dengan "kereta tanpa kuda" itu !!.

Ini adalah jenis penyemangat, bagian dari segala macam cara yang dilakukan sebagai upaya mensukseskan pendakian.

Ada juga yang berupa "angin surga" dari Cak Rio :

"sepertinya di depan itu adalah tanjakan terakhir, setelahnya kita akan mendapatkan medan datar !"

Jarak 3 Km serasa 13 Km. Fiuuhhh...

Di tengah-tengah perjalanan, kondisi kaki mulai lelah, nafas ngos-ngosan, rasa haus yang begitu sangat. Entahlah, aku banyak minum selama pendakian ini. Beda dengan Agus lain yang ikut dalam misi ini. Nggak khawatir pengen pipis juga, karena semua cairan ku jadi keringat dalam pendakian ini. Dinginnya suhu pegunungan bahkan tak terasa lagi karena saking berkeringatnya dan jantung yang terpacu terlalu cepat. Tak terhitung lagi berapa kali kami berhenti, mengatur nafas.

Ada Penjaja Kereta yg berjalan mengiringi kami, sambil sok akrab ngajak ngobrol. Lalu dia keluarkan benda kecil dari saku jaket, tidak lebih besar dari tutup gelas, berwarna kuning, mirip sabun, tapi lebih padat sehingga lebih berat lagi, dia sodorkan. Untuk menghormati niat baiknya jadi aku terima barang tersebut. Aku amati, aku kenali baunya, ternyata belerang yg telah diukir membentuk bunga matahari.

Setelah benda itu ada ditanganku, orang tadi bilang : "Bawa aja buat oleh2". Sambil berjalan seakan-akan beranjak pergi mendahului kami. Dalam hati aku "mbathin", (baik bener orang ini!)

Memang bendanya kecil, bisa dikerjakan iseng2 sambil nunggu penumpang kereta, jadi wajar, dan memungkinkan bila diberikan sebagai kenang2-an.

Eehh....

Ternyata ini hanyalah modus. Baru 2/3 langkah di depan kami, dia menahan langkahnya dan berkata : "yaa.. Di ganti berapalah, buat beli rokok, itu bikinnya juga susah mbaak ..!"

Aku beri deh Rp. 20.000 untuk dua keping ukiran belerang itu. Yang entah di mana keberadaan nya sekarang (Cak Rio sepertinya yang bawa).

-----------------

Semakin tinggi daratan semakin cepat pernafasan itulah normalnya. Tubuh akan meminta Oksigen lebih banyak dengan bernafas lebih cepat.

Dalam keheningan malam yang bertabur bintang, terdengar jelas bila mereka mendekat, tarikan nafas yang berat & cepat dariku yang mulai kelelahan. Lagi2 mereka silih berganti harus memompa semangatku, dengan penuh canda.

‘’Tarik nafas panjang dari hidung, keluarkan dengan cepat lewat mulut, jangan terbalik..!’’

Kata Cak Rio:

"Bila sudah sejajar dengan pucuk Gunung itu, berarti kita sudah dekat dengan kawah !"

Sudah tak terhitung berapa kali Cak Rio bilang begitu..! aku tertawa di tengah-tengah nafas yang semakin pendek, sambil menggerutu, ‘’aku dibithuki..!’’

Sudah tak terhitung berapa kali kita berhenti, namun tak jadi soal. Selama kebersamaan terus terjaga. Bahwa duka tidak sendiri, dan suka harus dibagi. Kebahagiaan hanya akan menjadi nyata saat kita berbagi. Sejauh apapun tempat yang dituju, bila kita tak kenal lelah menempuhnya, akhirnya sampai juga.

Mendekati akhir pendakian, ternyata jalannya memutar. Pantesan dari tadi kok gak sampai2, dan Rombongan pendaki lain yang mendahului kami hilang bagai ditelan bumi. Dan setelah tikungan terakhir, barulah terlihat warna-warni baju dari pendaki mengelilingi bibir kawah. Mereka asyik berfoto ria. Meski tak dapat momen Blue Fire nya, mestinya kami berangkat lebih awal.

Namun, plong sudah perjuangan ini, kami sempatkan dulu mengabadikan pemandangan indah di segala penjuru ;

- di arah depan (utara) terlihat puncak G. Merapi,

- di belakang kami ada G. Meranti, yang selalu jadi patokan (penanda)

- di kejauhan (barat) masih dalam rangkaian pegunungan ini, terlihat G. Raung dengan puncaknya yang keputihan karena disanapun ada dapur belerang yg selalu mengeluarkan asap.

-di arah timur terlihat selat Bali, garis pantai jelas membentang dr pojok utara Banyuwangi hingga ujung tenggara Pulau Jawa. Tempat Agus Abioso lahir dan dibesarkan.

---------------------

Mengingat Jadwal ngeTrip di BWI masih panjang, padat, dan penuh tantangan hingga dua hari ke depan, dan sudah dua kali mengalami kram pada kaki saat pendakian, dan sekali lagi kram saat hendak turun, akhirnya dulur Agus putuskan tawar menawar harga untuk sebuah kereta tanpa kuda menuju ke bawah - tempat parkiran mobil. Sepakat Rp. 100.000 untuk perjalanan turun dari puncak Gn. Ijen.

Naiklah satu-satunya perempuan dalam misi ini, sementara yang lain tetap sigap di sekelilingku. Dulur Agus tidak berjalan lagi untuk ke bawah, melainkan berlari, menyesuaikan laju menggelindingnya roda kereta. Di beberapa bagian, kereta harus di Rem, karena tikungan tajam/ jalan berlubang/ jalan berbatu terjal, selebihnya selalu berlari supaya tidak terbuang percuma energi yang tercipta dari curamnya lereng Gunung. Kalau naik kita tempuh 4 jam perjalanan. Namun untuk turun cukup dengan tidak lebih dari 1 jam!.

Cak Rio berlari di sampingku, namun sering kali ada di belakang kereta, bila jalur mengalami penyempitan. Sesekali dia mencandaiku lagi, duuh.. bener-bener inginnya ketawa mulu gara-gara berhasil mbithuki aku Cak Rio ini!

Abioso ada paling belakang, sebagai ‘’tim penyapu’’. Sambil cuci mata nyapu pendaki lain yg terlihat "terang". Dasar Abii.. !

Ha ha ha ha..

"Pingin tahu gimana rasanya ada diatas kereta tanpa kuda yg menuruni Gn. Ijen ?"

Bisa dibayangkan, "Jangan dikira enak lho !"

Kalau tidak terpaksa karena kaki sudah tak mampu, sejujurnya hati inginnya tetep jalan bareng. Ngeri, itu pasti! Di sebelah ada jurang menganga, sisi lainnya ada tebing batu, belum lagi resiko nyungsep, karena tak ada yang namanya rem cakram. Memang sich, di kedua roda ada rem tromol yang terhubung di setang kemudi dan masih terbantu dengan rem kaki dari sepatunya Pak Kusir. Tapii yang namanya medan gunung, semuanya bisa terjadi. Entah itu selip, rem blong, kaki terpeleset, roda terantuk batu, dll..

Naudzubillahhiimindzalik.

Di balik kesan cuek yang melekat pada seorang pendaki gunung, entah itu cara berpakaian / penampilan / maupun tingkah lakunya, sebenarnya mereka adalah orang-orang yang ‘’care’’ (perhatian) dengan caranya.

 

==Majestic of Banyuwangi, #days_2 #==

Sabtu, 23 Desember 2017, pukul 08.00, air terjun Kalipait

Selepas dari pendakian Gn. Ijen, kami sempatkan mampir di air terjun Kalipait, lokasinya masih sekitaran Gn. Ijen, dengan kaki yang masih kaku karena kram berkali-kali, kram paling hebat yang pernah aku rasa. Bukan Ninna namanya kalo begitu saja percaya cerita tentang kenapa namanya Kalipait, yang katanya airnya rasanya pahit. Sampai lokasi langsung kali pertama yang aku lakukan adalah mencicip rasa airnya. Dan.... bweeeeeehh.... sungguuuhhh pahiiiit campur asiiiin, apakah ini rasa belerang yaa.. hahaha....

Pukul 10.00, Kampung adat Osing

Rasa lapar kembali menghampiriku, teringat sejak sampai di Banyuwangi tengah malam tadi, aku belum makan rupanya. Perjalanan dilanjutkan ke kampung adat Osing, di sini kami disuguhi sarapan Nasi Pecel Pitik, nyamm nyamm... tapi jangan dibayangkan itu ada sambal kacang khas pecel ya, tapi Nasi Pecel Pitik itu ayam bakar yang dibalut bumbu urap (sambal kelapa), beserta pelengkapnya. Di kampung adat Osing ini juga saya bisa numpang mandi. Senengnya bisa menyegarkan badan dan berganti pakaian. Dan meluruskan kaki sejenak sebelum lanjut jalan lagi.

Pukul 13.00, Taman Nasional Baluran

Setelah mampir masjid untuk sholat Dhuhur, kami melanjutkan perjalanan ke Taman Nasional Baluran, tiket masuknya seharga 15.000/orang, dan 10.000/mobil roda 4. Pintu masuk Taman Nasional Baluran ke Savana Bekol berjarak 12 km, dan 15 km ke Pantai Bama. Jalan yang dilalui berbatu-batu, mobil hanya dapat melaju dengan kecepatan maksimum 15km/jam. Offroad di tengah hutan tropis ini serupa sebuah tantangan, tapi tidak bagi Cak Rio yang sudah cukup berpengalaman sebagai raja jalanan ini. Diapit dengan berbagai hutan tropis, lalu ‘’hutan Evergreen’’ atau hutan hijau sepanjang tahun, hingga savana. Di taman Nasional Baluran ini kita dapat menyaksikan langsung hewan liar di habitat aslinya, seperti rusa dan kera. Savana termasuk karakteristik alam yang jarang saya temui. Jadi ketika kami melihat Sava Bekol berlatar belakang Gunung Baluran, kami tidak dapat menahan diri untuk ber-sargus ria (berbagai gaya kami abadikan melalui HP kami masing-masing). Paling gokil tuh Cak Rio, seneng banget bergaya melompat. Di sava Bekol ini ada menara pandang yang yang terletak di ketinggian, sehingga kita bisa melihat seluruh area Savana beserta pantai dan gunung di Taman nasional Baluran ini. Sekitar 3 km dari Savana Bekol, kita akan sampai di Pantai Bama, sayang sekali nggak sampai kesana, capek sudah.

Pukul 16.00, Watu Dodol dan Patung Gandrung

‘’SELAMAT DATANG DI BANYUWANGI’’, begitu tulisan ini menyapa kita ketika sampai di sana. Banyak hal yang menarik di sini, selain Patung Gandrung yang merupakan ikon Kota Banyuwangi, di sini kita bisa menikmati indahnya panorama laut dan Selat Bali yang indah.

Pukul 17.30, ke Rumah Agus Sairi

Di sini kami menumpang sholat Magrib dan beristirahat sejenak sambil menikmati sajian makan malam yang telah disiapkan oleh nyonya Agus. Makanan khas pesisir, berbahan ikan yang dimasak menjadi berbagai macam lauk, dengan rasa khas asin dan pedas, tidak berbeda jauh dengan Kota Semarang (tempat tinggal saya).

Pukul 19.30, menuju Hotel Baru Indah

Menjelang malam, saya sudah sangat lelah, rencana nya masih akan nongkrong sekedar minum kopi sambil menikmati suasana malam hari, namun apa daya saya (terutama) sudah sangat sangat lelah. Maka demi perjalanan esok hari, saya segera diantar menuju hotel ‘’Baru Indah’’ untuk bermalam, dengan biaya 100rb saja untuk satu kamar.

==Majestic of Banyuwangi, #days_3#==

Minggu, 25 Desember 2017, pukul 07.00

Bangun pagi lalu mandi, kemudian saya dijemput untuk sarapan di rumah Agus Pry. Acara hari ini kita ke Hutan Wisata De Djawatan Benculuk, lanjut Wisata Kampung Primitif, lanjut Green Bay, lanjut Red Island.

Pukul 09.00, Hutan Wisata De Djawatan

Hutan Wisata De Djawatan terletak di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, sekitar 45 Km dari pusat Kota banyuwangi, kawasan ini milik Perhutani, membentang seluas enam hektar, menawarkan suasana teduh nan hijau, dengan latar belakang pohon Trembesi raksasa. Di dalam area Hutan Wisata De Djawatan Benculuk ada beberapa spot foto yang aduhai. Untuk masuk ke area ini kita hanya dikenai tiket seharga Rp. 2000/pengunjung. Murah bukan?

Pukul 10.00, Wisata Kampung Primitif

Wisata Kampung Primitif terletak di Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran. Suasana kampung Primitif masih alami, berada di tengah kebun, pengunjung bersantai sembari menikmati alam di bawah rindangnya pohon-pohon besar, ditemani suara gemericik air sungai. Berjajar rumah khas Dayak beratap jerami, di lokasi ini sekelompok pemuda dan anak-anak lengkap dengan dandanan ala Suku Dayak, siap menyambut pengunjung. Berfoto selfie dengan orang-orang Dayak khas Kampung Primitif menjadi daya tarik bagi wisatawan, termasuk saya.

Pukul 12.00, menuju Green Bay atau Teluk Hijau

Green Bay atau Teluk Hijau adalah obyek wisata pantai yang berada dalam area Taman Nasional Meru Betiri, Sarongan, Pesanggaran, Banyuwangi. Lokasinya berjarak sekitar 90 km dari kota Banyuwangi. Keistimewaan pantai ini karena air lautnya yang berwarna hijau dan pasir nya yang berwarna putih. Saat di Pos Rajegwesi, dikenai biaya masuk Rp. 7.500/orang, dan parkir mobil roda 4 nya Rp. 10.000. Akses menuju Green Bay atau Teluk Hijau ditempuh melalui jalur Pantai Rajegwesi dengan menyewa perahu, biayanya Rp. 35.000/orang pulang pergi, dengan lama perjalanan sekitar 15 menit saja. Satu perahu bisa muat untuk 6 orang. Serunya waktu kita nyeberang itu di tengah perjalanan turun hujan, jadi basah kuyup kita dalam perahu. Hihihii.. seruuuu! Sesampainya di sana, enggak rugi deh begitu kita ngelihat keindahannya, air laut berwarna hijau, pasirnya yang berwarna putih, daaannnn air terjun yang berada di tepi pantai yang dikelilingi batu karang yang sangat cantik! Air terjun setinggi 8 meter ini merupakan salah satu spot foto yang menarik. Kami menghabiskan waktu kira-kira 1,5 jam di Teluk Hijau ini, berpuas-puas hati menikmati suasana Teluk Hijau sambil berfoto-foto. Dan tujuan selanjutnya adalah menikmati sunrise di Pulau Merah.

Pukul 16.00, menuju Pulau Merah

Pulau Merah di Selatan Banyuwangi ini bentuknya menyerupai pegunungan yang ada di tengah pantai. Di sini kami cukup berjalan-jalan menyusuri pantai, sambil menikmati spot foto yang telah disediakan. Berupa tulisan-tulisan yang dapat disesuaikan dengan permintaan kita. Untuk dua spot foto kita cukup mengeluarkan uang Rp. 5000/orang. Spot foto lain tentu saja pada saat matahari terbenam, cantiik sekali. Entah berapa puluh gaya kami abadikan pada momen ini. Hehehe... dan kami sepatutnya berterimakasih pada putra dari Agus Pry yang dengan senang hati mengambil foto-foto kami melalui kamera HP.

Terakhir kalinya sebelum meninggalkan Pulau Merah ini, saya selalu meyempatkan untuk membeli kaos bertuliskan tempat wisata yang saya kunjungi. Dan selama di Banyuwangi ini, saya berhasil mendapatkan kaos bertuliskan Pulau Merah untuk saya bawa pulang sebagai oleh-oleh, selain sebagai baju ganti untuk saya pulang karena sudah kehabisan stok baju bersih dalam tas ransel tanggungku ini.

Pukul 18.00, meninggalkan Pulau Merah

Tepat setelah menikmati matahari terbenam, kami segera meninggalkan Pulau Merah dengan sejuta kenangannya. Kami menuju rumah Agus Pry untuk membersihkan diri dan sholat maghrib tentu saja. Dan ternyata tuan rumah sudah menyiapkan sekarung buah naga merah untuk kami bawa sebagai oleh-oleh. Ya, selama di Banyuwangi, saya melihat Buah Naga banyak tumbuh hampir di semua pekarangan rumah penduduk. Harga buah naga di sini Rp. 10.000/4 kg nya. Murah bukan?

Pukul 19.00, kami berpamitan dengan tuan rumah, untuk melanjutkan perjalanan kembali pulang ke Kota Malang, tempat saya berangkt awalnya. Saya diantar Cak Rio menggunakan mobil. Kami mampir dahulu untuk makan malam di warung nasi goreng milik Agus Fadil, pemuda tanggung ini rupanya piawai meracik nasi goreng. Nyam-nyam, nasi goreng super pedas segera saya pesan dan segera saya nikmati.

Pukul 23.00, kami sempatkan mampir ke rumah Bunda Agustita di Jember, ini kali pertama saya bertemu langsung dengan beliau. Bunda Tita ini bekerja di PTPN XII, maka tak ketinggalan satu bungkusan berisi lengkap kopi dan teh produk dari PTPN XII siap saya bawa pulang sebagai oleh-oleh. Kami tak bisa berlama-lama di Jember, selain mengantar saya, Cak Rio juga membawa serta dua orang penumpang lain. Perjalanan dilanjutkan, kami tiba di Malang tepat saat Subuh.

Dan ekspedisi meng-eksplore Majestic of Banyuwangi harus berakhir di sini. Semoga bisa dipertemukan dengan saudara Agus yang lain dalam suasana yang selalu menggembirakan.

Back to work Guss, supaya bisa berlibur lagii.. nantikan kisah berlibur ala Gus Ninna selanjutnya yah.

Terimakasih..!!




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Write a comment

Ada 1 Komentar untuk Berita Ini

  1. agus sariyanto 22 Feb 2018, 11:06:34 WIB

    Sip jangan lupa bahagia

View all comments

Write a comment