
Ponorogo, 14 Juni 2026
Gus !! …. Pak Agus !… Agus Kabeh ta Iki ? (Ini AGUS semua ?) “Nyelok Agus siji mengo Kabeh !” (Memanggil nama satu orang yang bereaksi satu pasukan). Lhoo…Pak Agus yang jualan Pecel !. Lho…Pak Agus yang jualan Cilok ! Hahahah, Hi Hi..Hi… 😊😄

Ribuan kamera /HP yang mengabadikan spanduk kontingen kami. Bergada ( prajurit ) Agus Agus Bersaudara Indonesia Dewan Agus Cabang (DAC) Ponorogo. Ratusan kali pula Panitia yang menjaga lintasan memperingatkan penonton untuk tidak gaduh, “Sssttt…, Kecilkan volume !”.
Sepertinya beberapa Panitia benar benar dikhususkan menjaga kontingen ini. Karena memang bergada inilah yang selalu menciptakan interaksi, melukiskan senyum kecil diwajah remang penonton, dan bahkan membuat tertawa lepas mereka yang merdeka rasa humornya !
Kami adalah Prajurit yang patuh pada aturan Panitia. Belasan bendera AABI tak jadi di kibarkan karena aturan melarangnya. Tak boleh pakai alas kaki, kamipun lepas sandal, kecuali yang tak tahan geli di telapak kakinya.


Kami tanpa suara, tanpa tingkah pantomim, tanpa gerakan melawak ataupun drama kolosal. Kami hanya berjalan dalam bisu, kami berusaha khidmad hening berjalan mengikuti lambaian tangan, ayunan kaki, tatapan jiwa jiwa yang mengosongkan ruang, untuk terciptanya harmoni di prosesi sakral ini.
Penonton bisa membaca apa yang tertulis di banner masing masing rombongan. Dari puluhan rombongan Bergada/rombongan prajurit, entah kenapa hanya di banner kami yang bisa menggelitik rasa penasaran mereka.

Pembawa benner diawal pemberangkatan sudah saya wanti wanti, jangan dekat dekat rombongan di depan, biar ada space, ada jeda , ada kesempatan bagi penonton membaca tiga baris kata/kalimat secara utuh. “BERGADA – AGUS AGUS BERSAUDARA INDONESIA – DEWAN AGUS CABANG PONOROGO”. Karena memang disitulah kekuatan kita, seakan akan inilah kalimat mantra yang akan menghipnotis warga penonton di kanan kiri jalur Kirab Bedhol pusaka 2026 ini.
3 (tiga) jam waktu tempuh kurang lebih 8 km jarak yang kami langkahi. Tiga pusaka daerah diarak dari Pendopo Agung Ponorogo menuju Kota Lama Ponorogo yang berada di Kompleks Makam Batoro Katong. Arak-arakan berlangsung khidmat.
Prajurit Agus Agus Bersaudara Indonesia dua kali disebut MC, melangkah gagah di depan podium kehormatan, disaksikan jajaran pejabat pemerintahan dan puluhan tamu mancanegara perwakilan massa kolonial Belanda dulu.
Agus kompak dan unik pastinya, disana ada Warok Abah Criping, senior Ponorogo yang berkharisma memberi tauladan. Ada mbah Agus Nogo kelahiran Surabaya berdomisili di Malang Jawa Timur yang menyerupai Warok Suromenggolo, berbadan tinggi besar dengan seragam khas AABI, bertopi dan rambut kuncir kuda menambah kesangaran penampilannya.

Penutup barisan ada Agus Nasih dari Pujon Malang, berjalan tegap, blangkon sebagai penutup kepala, berkalung tasbih besar, yang tertutup samir (pita/kain panjang pipih) melingkar di leher sebagai tanda sedang menjalankan tugas resmi dari Keraton. Pin AABI di dada kirinya, bagian bawah berbalut jarik khas Jogja, terikat oleh setagen di perut sekaligus sebagai tempat menyelipkan bilah keris di bagian belakang, penampilan khas abdi dalem keraton.
Deretan panjang rombongan Agus mencerminkan keanekaragaman sifat dan watak manusia, Agus Junior satu satunya yang paling kecil melambangkan regenerasi yang selalu berkesinambungan.
Gus Anto Madiun dan Gus Babe Surabaya, dua Agus yang kondisi kakinya sedang sakit, tetap hadir melambangkan kegigihan Agus dalam suka dan duka. Agus Heri Depo Malang, meskipun sepuh, usia diatas 65 tahun, masih bersemangat hadir dilokasi. Agus Brewok Tulungagung perwakilan DAC tetangga sebagai wujud solidnya AABI dimanapun dan kapanpun !

Agus Mulyadi dari Sukabumi, perwakilan dari Dewan Agus Pusat, sumringah dengan senyum yang tak pernah kering sepanjang jalan. Walaupun sebenarnya dilarang namun itulah respon kami bila disapa atau dipanggil penonton. Sesekali kami menjawab “nggih” dengan nada halus.
Itulah gambaran singkat keikutsertaan Agus Agus Bersaudara Indonesia dalam kegiatan resmi yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Ponorogo, Jawa Timur, sekaligus wujud nyata kepedulian AABI dalam pelestarian kearifan budaya Nusantara.









Ayo dulur Agus, untuk tahun depan diharapkan partisipasi dari semua Wilayah, Banten, DKI, DIY, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan daerah lainnya untuk menambah panjang kontingen /bergada/prajurit AGUS.
Ini momen yang cocok sebagai sarana memperkenalkan siapa kita, menanamkan nilai nilai kebersamaan. Rombongan panjang berarti AGUS-nya banyak, Agus Agus yang banyak berarti komunitasnya besar.
Saya Agus Beken, sudah dua kali ikut Kirab Bedhol pusaka, saya yakin Gus Yad (Humas DAP AABI) tahun depan akan berusaha hadir lagi, karena memang sangat berkesan. Perpaduan budaya, seni, olah batin, olah rasa dan olah raga, kecintaan pada budaya lokal, penghormatan pada leluhur.
Brotherhood in harmoni 💪💪💪
Oleh : AGUS BEKEN, Ketua Dewan Agus Daerah (DAD) Jawa Timur








Trending now
Tanaman Porang. Investasi Yang Menguntungkan.BERBALAS PANTUNAgus Jamhur, Sang Komandan yang Murah Senyum“Energy Of AABI” HUT Ke-2 DAC Gerbangkertosusila