Kisah Sebuah Nama Agus

208

MALANG. AGUS.OR.ID. Siang itu Sabtu, tanggal 1 Juni 2019, saat lebaran kurang 4 hari, saya bersama keluarga melakukan perjalanan mudik menggunakan mobil Taruna  2004. Kami memilih melewati jalur TOL sambil mencoba dan mengukur seberapa cepat sampai rumah dibanding jalur biasa yang bertahun-tahun kami lewati. Sekalian mencari tahu berapa banyak biaya TOL yang harus saya bayar.

Pada awalnya semua berjalan mulus dan normal. Mulai dari Karanglo sampai Jombang. Disinilah awal mula kisah ini. Mobil yang tadinya berjalan wajar- wajar saja,  tiba-tiba saat kecepatan diatas 100km/jam saya merasa ada sesuatu yang tidak beres.  Mobil berjalan seperti tersendat-sendat. Saya yang tidak tahu mesin berjalan saja, sampai akhirnya mobil betul-betul tidak bisa berjalan cepat.

Akhirnya kami putuskan melaju pelan-pelan. Sampai pintu TOL Caruban Madiun, kami putuskan untuk keluar dari jalan TOL agar bisa mencari Bengkel. Menggunakan aplikasi Google Maps kami mencoba berulang ulang mencari bengkel, tapi hasilnya tidak akurat. Bahkan sempat diarahkan ke bengkel motor relawan mudik dari Ahass.

Saat disitulah saya yang udah putus asa diarahkan oleh teknisi Honda Ahass untuk menghubungi Pak Agus. Bayangan saya ada teknisi keliling yang namanya Agus. Tapi ternyata teknisi tadi melihat saya memakai kaos Paguyuban AABI (Agus Agus Bersaudara Indonesia).

Akhirnya saya beranikan diri share kejadian dan keluhan ke grup whatsapp AABI Malang Raya. Responnya sangat luar biasa. Agus Beken sebagai Ketua AABI DAC Malang Raya langsung merespon,  dalam grup beliau menuliskan bahwa sebentar lagi akan ada yang telepon saya.

Ternyata betul,  beberapa menit kemudian ada seseorang yang telepon WA saya dan menanyakan posisi saya. Saya jawab di Pasar Burung Caruban. Beberapa saat kemudian datang orang berumur kisaran 49-an tahun, langsung menyapa “Gimana bos ?”  Karena sama-sama tidak tahu mesin, akhirnya dia mengarahkan saya ke bengkel terdekat yang memang tidak ada di Google Maps.

Disitu mobil di otak atik sama teknisi,  saya ngobrol sama Pak Agus yang ternyata bernama Agus Darmanto, anggota AABI DAC Madiun Raya. Beberapa menit selanjutnya ada WA masuk mengaku bernama Agus Widi menanyakan posisi saya. Datang lah seseorang yang tidak pernah saya kenal sebelumnya.

Ya, mereka datang dan membantu saya hanya karena namaku Agus, dan kebetulan sudah bergabung dalam AABI DAC Malang Raya.

Oh ya, satu lagi WA masuk dari Agus Bebek, mereka semua sama sama anggota AABI DAC Madiun Raya yang konon kabarnya sering kumpul bareng meski tidak resmi, tapi sering membuat kegiatan sosial. Misal bagi bagi Takjil Gratis selama Ramadhan,  dan rencananya ada Halal bihalal setelah Idul Fitri 1440 H/ 2019 M.


https://www.abwaba.com/

Itulah kisah saya,  hanya karena nama kami sama-sama AGUS,  kami saling bantu, tanpa tendensi apapun, bahkan kepada seseorang yang betul-betul tidak dikenal sebelumnya.

Penulis : Agus Tikno, aggota AABI DAC Malang Raya.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.